Fenomena Retraksi (Penarikan) ilmiah, yang didefinisikan sebagai pencabutan formal sebuah makalah yang telah diterbitkan dari catatan ilmiah akibat kesalahan, kecurangan, atau pelanggaran etika, semakin mendapat perhatian sebagai indikator penting dari integritas penelitian dan efektivitas kerangka kerja peer-review serta publikasi. Mekanisme koreksi ini tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki ketidakakuratan, tetapi juga untuk menjaga kredibilitas dunia akademik.
Retraksi memberikan berbagai manfaat bagi komunitas ilmiah, termasuk menjaga integritas penelitian, melindungi kepercayaan publik, meningkatkan standar peer-review, dan mendorong kemajuan ilmiah. Dengan mengoreksi kesalahan dan mencegah praktik tidak etis, Retraksi membantu membangun fondasi yang kuat dan andal untuk penelitian masa depan sekaligus memastikan akuntabilitas di semua level ekosistem akademik.
Tren ini muncul sebagian karena pertumbuhan eksponensial output penelitian dan meningkatnya publikasi akses terbuka, yang keduanya menuntut pengawasan dan kontrol kualitas yang lebih ketat dalam penerbitan akademik. Analisis mendalam tentang tren Retraksi global, ditambah dengan wawasan spesifik dari Indonesia, memperlihatkan dinamika mendasar dan peluang untuk perbaikan sistemik.
Tren Global Retraksi Ilmiah
Insiden Retraksi secara global meningkat secara bertahap, terutama di bidang-bidang dengan tekanan tinggi seperti teknologi, ilmu komputer, dan ilmu biomedis. Dengan lebih dari 59.000 Retraksi yang terdokumentasi, pola-pola tertentu muncul:
Penyebab Utama Retraksi
Faktor-faktor yang paling dominan termasuk investigasi yang diprakarsai oleh jurnal atau penerbit (20.756 kasus), hasil penelitian yang tidak dapat diandalkan (14.074 kasus), dan masalah integritas data (12.983 kasus). Sebagai contoh, penarikan beberapa penelitian terkenal dalam ilmu biomedis, seperti penelitian yang melibatkan data uji klinis yang dimanipulasi, telah membawa perhatian yang signifikan terhadap masalah integritas data. Kasus-kasus ini menggarisbawahi tantangan yang lebih luas yang dihadapi di seluruh disiplin ilmu dalam mempertahankan standar penelitian yang ketat. Tren ini menggarisbawahi tantangan yang meluas dalam memastikan ketelitian metodologis dan kepatuhan terhadap etika.

Faktor-Faktor Utama Retraksi Ilmiah
- Praktik Curang: Peer-review palsu, plagiarisme, dan proliferasi paper mill merusak kredibilitas penelitian.
- Kelemahan Metodologi: Hasil yang tidak konsisten dan kasus pemalsuan atau fabrikasi data adalah masalah berulang.
- Kesalahan Penelitian: Kesalahan jujur, baik yang berasal dari penulis atau penerbit, menyumbang proporsi Retraksi yang signifikan.
- Pelanggaran Etika: Perselisihan tentang kepengarangan dan praktik penelitian yang tidak etis meningkatkan tingkat Retraksi.
- Intervensi Investigasi: Retraksi sering kali menyusul pengawasan oleh jurnal atau evaluator pihak ketiga, mencerminkan mekanisme pengawasan sistemik.
Pola Geografis
China memimpin dengan 28.504 Retraksi, mencerminkan output penelitiannya yang berkembang pesat yang disertai dengan tantangan kontrol kualitas. Negara-negara lain menunjukkan tren yang mencerminkan ekosistem penelitian dan struktur tata kelola mereka.
Reformasi dalam Praktik Retraksi
Kemajuan signifikan terlihat di jurnal seperti Journal of Environmental and Public Health, yang telah mencapai pengurangan 99,7% dalam Retraksi, menunjukkan efektivitas peningkatan editorial dan peer-review.


Tren Retraksi di Indonesia
Sebagai kontributor yang berkembang di lanskap penelitian global, pola Retraksi di Indonesia menawarkan perspektif unik:
Penulis Menonjol (Prominent Authors)
Terdapat Peneliti dengan 20 retraksi dan 10 retraksi menggambarkan tantangan yang terkonsentrasi, yang berpotensi terkait dengan proyek atau praktik kelembagaan tertentu. Tantangan-tantangan ini mungkin termasuk pengawasan yang tidak memadai selama proses penelitian, kerangka kerja bimbingan atau kolaborasi yang tidak memadai, dan tekanan sistemik untuk mempublikasikan yang dapat membahayakan kualitas penelitian.
Isu-isu tersebut menyoroti implikasi yang lebih luas bagi komunitas akademis di Indonesia, termasuk kebutuhan akan kebijakan kelembagaan yang lebih kuat, pendanaan yang lebih baik untuk pelatihan metodologi, dan infrastruktur yang lebih mendukung untuk mendorong hasil penelitian yang beretika dan berkualitas tinggi.
Disiplin Dominan
Bidang teknologi (28 retraksi) dan pendidikan (22 retraksi) mencerminkan prioritas penelitian nasional (dilihat dari jumlah paper) sekaligus mengungkap kerentanan sistemik di bidang-bidang ini.
Jurnal Tujuan Publikasi
Journal of Physics: Conference Series (42 retraksi) memimpin sebagai jurnal tujuan publikasi di Indonesia, dengan adanya hal ini maka perlu ditekankan protokol penelaahan sejawat yang lebih ketat dalam proses konferensi ilmiah.
Alasan Utama Retraksi
Kesalahan oleh jurnal atau penerbit (36 kasus), duplikasi artikel (19 kasus), dan temuan investigasi yang lebih luas (17 kasus) mendominasi temuan kasus retraksi di Indonesia. Faktor-faktor ini sebenarnya juga mencerminkan tren global, di mana alasan pencabutan yang serupa terjadi di berbagai disiplin ilmu. Khususnya, kesalahan oleh penerbit (peer-review).
Faktor-faktor ini mencerminkan tren global, di mana alasan serupa untuk Retraksi (Penarikan) terjadi di berbagai disiplin. Hal ini menyoroti kesenjangan tata kelola lokal yang selaras dengan pola global, sehingga memerlukan intervensi yang ditargetkan untuk meningkatkan keandalan dan transparansi proses publikasi.




Apa yang Perlu Dilakukan?
Retraksi ilmiah, meskipun sering kali dianggap sebagai hasil negatif, memainkan peran penting dalam menjaga integritas catatan akademik dan meningkatkan kualitas penelitian. Untuk Indonesia, memprioritaskan reformasi institusional dan membangun budaya etika penelitian yang kuat akan menjadi kunci untuk mengurangi retraksi ilmiah dan meningkatkan posisi ilmiah negara. Secara global, fokus yang berkelanjutan pada transparansi, ketelitian metodologis, dan peer-review yang kuat tetap menjadi inti untuk memajukan sains yang kredibel dan berdampak.
Pengungkapan:
Dalam penyusunan laporan singkat ini, penulis dibantu oleh OpenAI untuk menganalisis dataset/metadata digunakan untuk visualisasi data. Proses kurasi data dan telaah akhir dalam telaah penulis.
